Titik Balik
Usai mengurus sertifikat tanah, Aku dan Temenku mampir di Warung makan lalu memesan makanan soto daging dan bercerita tentang "Titik Balik Manusia"
Bukankah Ajaran kita menjelaskan bahwa dunia hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan tapi kenapa Ia malah menikmatinya dengan penuh kesombongan?
Ingatlah! Titik Balik Itu ada.
Ia adalah seorang yang kaya, usahanya melejit lalu anaknya di penuhi beragam fasilitas. Rumahnya di pagar rapat seakan membatasi aksi sosial dengan masyarakat dengan dalih keamanan.
Ia juga jarang mengikuti kegiatan sosial dengan dalih pekerjaan. Sesekali ia menghina para pengangguran.
Ia dihormati beberapa orang karena kekayaanya.
Hingga hari ini Tuhan mengambil kebebasannya. Ia mulai meratapi nasib dan perilakunya. Usaha yang Ia bangun sejak puluhan tahun kini mengalami kemunduran bahkan nyaris bangkrut.
Ia berencana menjual beberapa usahanya untuk melunasi hutang hutangnya.
Ia pernah mengambil uang hutang di bank namun usia tidak memperbolehkannya. "Aku sangat menyesal andaikan dulu aku memahami arti kaya maka pastinya aku akan sangat berhati hati dalam berperilaku" itulah yang ada dibenaknya.
Namun penyesalan itu sedikit terlambat Tuhan telah memerintahkan titik balik menjadi takdirnya.
"Itulah yang ditakdirkan Tuhan untuknya sebenarnya tidak ada kata terlambat bertaubat selama nyawa belum keluar dari jasad." kata temenku sambil menyantap soto daging di depannya.
Titik Balik Tuhan tidak ada yang tau.
Dilain sisi ada yang dulunya miskin namun bersabar dan telaten dengan usaha yang digelutinya ia merangkak keatas namun jiwanya tetap merendah.
Ia tak mau menyombongkan diri. Ia pernah berkata" Inilah aku entah kaya atau miskin tetap seperti ini dengan pakaian yang tidak terlalu mewah"***

Komentar
Posting Komentar