Filsafat Perasaan David Home


David Hume.

Tepat Ramadhan ke 24 ini, diruang berukuran 3 kali 3 aku membaca tentang filsafat David Hume 

David Hume merupakan tokoh empiris yang hidup pada 1771 hingga 1776.

David Hume merupakan salah satu orang  yang mengantarkan filosof besar Immanuel kant menentukan dan menemukan filsafatanya.

Ada yang menarik dari filsafat Hume. Jika dulu tulisan blog sebelumnya, Aku menulis filsafat Aristoteles tentang logika, mengambil premis hingga kesimpulan.

Maka filsafat David Hume lebih pada perasaan(dorongan) bukan akal.

Untuk memahami maksud David Hume tersebut marilah pertama tama merenungkan apa yang pernah dikatakan David Hume.

Ia mengatakan, bertindak secara tanggungjawab bukan berarti menguatkan akal kita melainkan memperdalam perasaan demi kesejahteraan orang lain.

Sebagai contoh kalian tentu ingat bahwa kaum Nazi membunuh jutaan orang Yahudi.

Akankah kalian katakan ada sesuatu yang salah dengan penalaran mereka? 

Namun yang pasti, jelas ada sesuatu yang salah dengan perasaan mereka.

Contoh sederhana, jika disebuah daerah terjadi banjir hingga mengakibatkan banyak orang kehilangan rumah dan tempat berteduh.

Maka, perasaanlah yang menentukan apakah kita akan datang membantu atau tidak.

Jika kita tidak mempunyai perasaan dan menyerahkan semuanya pada akal yang dingin.

Kita mungkin akan menganggap bahwa sudah sepatutnya jutaan orang mati didunia yang telah terancam kelebihan penduduk.

Oleh karena itu, menurut David Hume perasaan sangat penting agar tidak terburu buru mengambil kesimpulan.

Karena hanya pernah melihat sekumpulan kuda berwarna hitam bukan berarti semua kuda berwarna hitam.

Jadi, menurutku filsafat hume tentang perasaan (dorongan) menjadi pelengkap dari filsafat Aristoteles tentang logika.***





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengelola Keuangan.

Pemberdayaan Perempuan