Kecanduan Gadget
(Pengenalan dan Metode Pencegahan)
Hey semuanya. Salam kebajikan salam sejahtera untuk kita semua. Saya ucapkan selamat dating di blog bintanggarda dalam tulisan ke dua di hari ke 5 tahun 2021. kegiatanku pada hari ke 5 ini adalah membantu pelaksaanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa katerban kecamatan baron kabupaten nganjuk dari salah seorang mahasiswa universitas 17 agustus Surabaya (UNTAG). Kegiatan kali ini adalah workshop dengan tema “Kecanduan Gadget dan Pengaruhnya Terhadap Anak dan Remaja Perspektif Psikologi”. Sedikit aku akan me-reshare isi workshop tersebut. Selamat membaca semoga bermanfaat
Tahun 2020 indonesia memperingati ratifikasi konvensi hak anak yang ke 30 tahun ratifikasi tersebut diterbitkan oleh keputusan presiden (KEPRES) tahun 1990. Kemudian diterbitkanya Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak yang direvisi menjadi uu nomor 35 tahun tahun 2014 dan uu Nomor 17 tahun 2016. Namun diera pandemic ini ada masalah utama pada anak. seperti yang dikatakan deputi tumbuh kembang anak kementrian pengembangan dan perlindungan perempuan dan anak (PPPA) bahwa gawai/ gadget merupakan masalah utama di era pandemi ini.
Perkembangan tekhnologi termasuk meningkatnya fitur-fitir gadget memang lebih memudahkan anak atau remaja untuk belajar. Namun ini musti diperhatikan betul betul oleh orang tua. Jangan sampai informasi informasi yang beredar diinternet tidak sesuai dengan perkembangan anak apalagi hingga kecanduan. Selain itu penecegahan terhadap penyalahgunaan gadget lebih sulit. Mungkin dalam kasus narkoba orang tua bisa melarang anak tidak boleh memakai narkoba, begitupun minuman keras orang tua bisa melarang anak untuk menjauhi. Tetapi untuk tekhnologi orang tua tidak bisa melarang seorang anak untuk manjauhi tekhnologi ataupun tidak memakai tekhnolog, hal ini menjadi delima bagi orang tua. Ditambah lagi diera pandemi ini hampir semua kegiatan beralih ke tekhnologi (gadget dan internet).
Melihat perkembangan kasus kecanduan gadget yang semakin meningkat di era pandemi ini. Dilansir dari radar lampung sebelum era pandemi ini anak-anak yang masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) akibat kecanduan gadget rata-rata perbualan 5-6 sedangkan diera pandemic ini rata-rata mencapai hingga 10 kasus perbulan. hal inilah yang melatar belakangi adanya workshop dengan tema "gangguan gadget". Sebagai bentuk pencegahan terhadap gangguan mental anak.
Kecanduan gadget merupakan kebiasaan yang harus dilakukan dalam kegiatan tertentu dan sulit untuk dihentikan terlepas dari akibat yang ditimbulkan seperti kesehatan fisik mental. Hal ini biasanya ditandai dengan :
1. Sakau (mengalami kegelisahan atau kecemasan saat mengurangi atau tidak memakai smaertphon.
2. Mengidam (selalu merasa menginginkan dan sulit dihentikan)
3. Suasana perasaan buruk pada saat tidak memegang gawa/smartphin
4. Berlebihan dalam bermain gadget
5. Kambuh hal ini dialami pada anak yang sudah mengalami penurunan pemakaina gadget. Kemudian kambuh lagi.
Setelah melihat ciri cirinya apakah adik adik kita/anak anak kita mengalami tanda tanda tersebut. Lalu bagaimana pencegahanya? Hal inilah yang juga ditanyakan salah satu ibu-ibu peserta workshop hari ini?
Sebelum ke proses pencegahan terlebih dahulu harus mengetahui penyebab dan dampak dari kecanduan gadget. Penyebab pertama adalah pikiran. Seorang anak akan cenderung memenuhi kepuasan dari bermain game untuk mendapat level tertinggi. Ke dua adalah perilaku remaja yang memiliki kepercayaan tinggi namun rendah dalam ketrampilan social akan mengalami kecanduan gadget karena sifat media social yang bersifat anonym. ke tiga system syaraf dan perilaku psikologi karena dalam syaraf manusia terdapat hormon dopamine yang mengatur suasana hati manusia. Dengan memenuhi kepuasan dengan gadget hormone tersebt akan meningkat sehingga jika dilakukan terus menerus akan menjadi kebiasaan dan mati rasa ke empat faktor pelarian dan kebosanan. Hal-hal seperti inilah yang bisa memicu kecanduan gadget.
Walaupun dampak perkembangan teknologi mempermudah dalam belajar,mengurangi batasan jarak, serta anak lebih mudah dalam mengeksplor pengetahuan. Tetapi kalo kecanduan akan menyebabkan beberapa dampak negative seperti menurunya aktivitas social, anak lebih aktif diduania maya dibanding dunia nyata, perkembangan otak tidak maksimal karena tidak seimbang, juga terganggunya konsentrasi hingga menurunya prestasi bahkan sampai hilangnya privasi anak sampai masalah pornografi kekerasan dan lain-lain.
Disinalah pentingnya peran orang tu,. pendampingan, pola asuh ,kedekatan serta komunikasi antara orang tua dan anak sangat penting. Mengingat pelarangan anak terhadap penggunaan gadget bukanlaqh solusi. Beberpa ahli memberi solusi dengan membatasi jam penggunaan gadget pada anak seperti usia dibawah 2 tahun hanya kurang 1 jam perhari, usia antara 2-5 tahun 1 jam perhari., Usia 6 tahun 2 jam perhari diluar jam belajar atau juga bias sesuai kesepakatan orang tua dan anak. Selain itu juga bisa menerapkan gerakan 18-21 maksudnya mematikan gadget atau televisi dengan mengganti aktivitas belajar,bermain negobrol dan aktvitas harmonis lainya.
Adapun saran pencegahan dari psikologi adalah memberi pengetahuan dan informasi terkait kecanduan gadget. Kenali tanda tanda gadget pada anak remaja ajarkan pada anak remaja untuk mengatur stress seperti relaksasi dan oaehraga.
Ini tadi sedikit review dari catatan kegitan workshop hari ini sebagai penitup. Aku akan menutup tulisn ini dengan perkataan princes diana “Pelukan bisa menunjukakan pada anak kita menyayangi,menenangkan ketika mereka merasa takut dan gelisah,menunjukkan betapa kita bangga kepada mereka,dan masih banyak lagi yang terpenting adalah sebuah pelukan bisa membuat mereka merasa aman,nyaman serta merasa dicintai"

Komentar
Posting Komentar